| Gambar Ilustrasi (foto:google) |
Basrah, Iraq. Sudah beberapa lama tak turun hujan. Hari itu belum
beranjak siang. Terik matahari mulai terasa. Angin musim kemarau
berhembus. Angin kering padang pasir menerpa wajah. Orang-orang mulai
kesulitan mendapati air. Demikian juga binatang peliharaan yang
kelihatan kurus-kurus.
Hari itu penduduk Basrah sepakat untuk
mengadakan shalat Istisqa’. Untuk meminta hujan yang sudah sekian lama
tertahan. Shalat itu akan dihadiri para ulama Basrah dan tokoh
masyarakatnya. Yang langsung akan dipimpin oleh salah seorang ulama
pilihan di antara mereka. Nampak di antara para ulama yang sudah hadir
Ulama Besar Malik bin Dinar, Atho’ As-Sulaimi, Tsabit Al-Bunani, Yahya
Al-Bakka, Muhammad bin Wasi’, Abu Muhammad As-Sikhtiyani, Habib Abu
Muhammad Al-Farisi, Hasan bin Abi Sinan, Utbah bin Al-Ghulam, dan Sholeh
Al-Murri.
Benar-benar sebuah sholat Istisqo’ yang istimewa.
Dihadiri orang-orang terbaiknya. Tentunya dengan harapan agar Allah
menurunkan kembali hujan yang ditahan karena dosa-dosa manusia.
Para penduduk nampak berduyun-duyun mendatangi lapangan yang telah
ditentukan. Para ulama pun sudah mulai nampak di lapangan itu.
Anak-anak kecil yang asyik belajar di tempat pengajian Al-Qur’an
mereka, juga nampak berlarian menuju lapangan. Demikian juga para
wanitanya. Besar, kecil, laki, perempuan, tua, muda, semuanya tidak ada
yang ketinggalan untuk mengikuti sholat. Dengan hanya satu harapan, agar
hujan kembali turun.
Sholat dimulai. Dua rokaat sudah. Selesai
itu sang imam menyampaikan khutbah dan doa panjangnya. Mengakui segala
kelemahan dan kesalahan manusia yang menyebabkan murka Allah. Dan
mengharap kembali turunnya berkah hujan dari langit. Karena masih ada
orang tua dan binatang yang tidak bersalah ikut menanggung akibat dosa
sebagian orang. Doa terus dipanjatkan.
Waktu terus beranjak
siang. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Mendung tak kunjung
datang. Langit masih terlihat cerah. Matahari semakin terasa terik.
Sholat Istisqa’ selesai. Semua penduduk pulang ke rumah masing-masing.
Tinggallah para ulama yang masing-masing bertanya dalam hati mengapa
hujan tak kunjung datang. Padahal telah berkumpul orang-orang baik dan
pilihan di masyarakat Basrah.
Akhirnya diputuskan untuk
menentukan hari lain. Mengulang sholat Istisqa’ berharap untuk kali ke
dua ini, Allah mengabulkan doa mereka. Sholat kedua ditentukan. Suasana
sholat ketika itu tidak jauh berbeda dengan sholat sebelumnya. Dan kali
ini pun belum ada tanda-tanda dikabulkannya doa. Langit masih sangat
cerah dengan terik matahari tengah hari. Tanda tanya di hati para
ulamanya semakin besar.
Sholat ketiga pun segera menyusul.
Semoga yang ketiga inilah yang didengar, begitu harapan mereka. Persis
seperti yang pertama dan kedua, sholat yang ketiga pun mempunyai suasana
yang sama. Dan ternyata hasilnya pun sama. Hujan masih tertahan entah
karena apa. Tanda tanya di hati para ulama Basrah kian menggelayut di
dalam hati mereka masing-masing. Tanpa jawaban. Seluruh penduduk dan
ulamanya pulang ke rumah dan tidak tahu kapan musim kering itu berlalu.
Tersisa Malik bin Dinar dan Tsabit Al-Bunani di lapangan terlihat
berbincang serius. Perbincangan itu dilanjutkan di masjid yang tidak
jauh dari tempat itu. Hingga malam datang menjelang. Masjid sudah sepi,
tidak ada lagi yang sholat. Karena sudah malam larut.
Tiba-tiba
mereka berdua dikejutkan oleh seorang dengan kulit berwarna gelap,
wajah yang sederhana, dengan betis tersingkap yang terlihat kecil,
dengan perut buncit. Orang itu memakai sarung dari kulit domba, demikian
juga kain yang dipakainya untuk atas badannya. “Aku memperkirakan semua
yang dipakainya tidak melebihi dua dirham saja,” kata Malik bin Dinar.
Yang menunjukkan bahwa orang itu hanyalah orang miskin yang tidak
memiliki banyak harta.
Malik bin Dinar mengamati
gerak-geriknya, ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang
hitam itu di larut malam seperti ini. Orang itu menuju tempat wudhu.
Setelah selesai wudhu, seperti tanpa mempedulikan Malik dan Tsabit yang
mengamatinya dari tadi, orang itu menuju mihrab imam kemudian sholat dua
rokaat. Sholatnya tidak terlalu lama. Surat yang dibaca tidak terlalu
panjang. Ruku’ dan sujudnya sama pendeknya dengan lama berdirinya.
Selesai sholat, orang itu menengadah tangannya ke langit sambil berdoa.
Malik bin Dinar mendengar isi doa yang disampaikan dengan suara yang
tidak terlalu tinggi tapi terdengar. “Tuhanku, betapa banyak
hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang
sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena
apa yang ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu
telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu
kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya.”
Setelah mendengar itu Malik bin Dinar berkata, “Belum lagi dia
menyelesaikan perkataannya, angin dingin pertanda mendung tebal
menggelayut di langit. Kemudian tidak lama, hujan turun dengan begitu
derasnya. Aku dan Tsabit mulai kedinginan.”
Malik dan Tsabit
hanya bisa tercengang melihat orang hitam itu. Mereka berdua menunggu
hingga orang itu selesai dari munajatnya. Begitu terlihat orang itu
selesai, Malik menghampirinya dan berkata, “Wahai orang hitam tidakkah
kamu malu terhadap kata-katamu dalam doa tadi?” Orang tdai bertanya,
“Kata-kata yang mana?” “Kata-kata: dengan kecintaan-Mu kepadaku,” kata
Malik. “Apa yang membuatmu yakin bahwa Allah mencintaimu?” sambung
Malik. Orang itu menjawab, “Menyingkirlah dari urusan yang tidak kamu
ketahui, wahai orang yang sibuk dengan dirinya sendiri! Dimanakah
posisiku ketika aku dapat mengkhususkan diri kami untuk beribadah hanya
kepada-Nya dan ma’rifat kepada-Nya. Mungkinkah aku dapat memulai hal itu
jika tanpa cinta-Nya kepadaku sesuai dengan kadar yang dikehendaki dan
cintaku kepada-Nya sesuai dengan kadar kecintaanku.”
Setelah
berkata itu, dia pergi begitu saja dengan cepatnya. Malik memohon,
“Sebentar, semoga Allah merahmatimu. Aku perlu sesuatu.” Orang itu
menjawab, “Aku adalah seorang budak yang mempunyai kewajiban untuk
mentaati perintah tuanku.”
Akhirnya Malik dan Tsabit sepakat
untuk mengikuti dari jauh. Ternyata orang itu memasuki rumah seorang
yang sangat kaya di Basrah yang bernama Nakhos. Malam sudah sangat
larut. Malik dan Tsabit merasakan sisa malam begitu panjang, karena rasa
penasarannya untuk segera mengetahui orang itu di pagi harinya.
Pagi yang dinanti akhirnya tiba. Malik yang memang mengenal nakhos itu
segera menuju rumahnya untuk menanyakan budak hitam yang dijumpainya
semalam. “Apakah engkau punya budak yang bisa engkau jual kepadaku untuk
membantuku?” kata Malik bin Dinar beralasan untuk mengetahui budak
hitam yang dijumpainya semalam. Nakhos berkata, “Ya, saya mempunyai
seratus budak. Kesemuanya bisa dipilih.” Mulailah Nakhos mengeluarkan
budak satu per satu untuk dilihat Malik. Sudah hampir semuanya
dikeluarkan, ternyata Malik tidak melihat budak yang dilihatnya semalam.
Sampai Nakhos menyatakan bahwa budaknya sudah dikeluarkan semua.
“Apakah masih ada yang lain?” tanya Malik. “Masih tersisa satu lagi,”
jawab Nakhos.
Saat itu waktu mendekati waktu dhuhur. Saat
istirahat siang. Malik berjalan ke belakang rumah menuju suatu kamar
yang sudah terlihat reot. Di dalam kamar itulah Malik melihat budak
hitam yang dilihatnya semalam sedang tertidur lelap. “Nakhos, dia yang
saya mau, ya demi Allah dia,” kata Malik semangat. Dengan penuh
keheranan Nakhos berkata, “Wahai Abu Yahya, itu budak sial. Malamnya
habis untuk menangis dan siangnya habis untuk sholat dan puasa.” “Justru
untuk itulah aku mau membelinya,” kata Malik. Melihat kesungguhan
Malik, Nakhos memanggil budak tadi.
Dengan wajah kuyu, dengan
rasa kantuk yang masih terlihat berat budak itu keluar menemui
majikannya. Nakhos berkata kepada Malik, “Ambillah terserah berapa pun
harganya agar aku cepat terlepas darinya.”
Malik mengulurkan
dua puluh dinar sebagai pembayaran atas harga budak itu. “Siapa
namanya?” tanya Malik yang sampai detik itu masih belum mengetahui
namanya. “Maimun.”
Malik menggandeng tangan budak itu untuk
diajak ke rumahnya. Sambil berjalan, Maimun bertanya, “Tuanku, mengapa
engkau membeliku padahal aku tidak cocok untuk membantu?”
Malik
berkata, “Saudaraku tercinta, kami membelimu agar kami bisa
membantumu.” “Kok bisa begitu?” tanya Maimun keheranan. “Bukankah kamu
yang semalam berdoa di masjid itu? Tanya Malik. “Jadi kalian sudah tahu
saya?” Maimun kembali bertanya. “Ya akulah yang memprotes doamu
semalam,” kata Malik.
Budak itu meminta untuk diantar ke
masjid. Setelah sampai ke pintu masjid, dia membersihkan kakinya dan
masuk. Langsung sholat dua rokaat. Malik bin Dinar hanya bisa diam
sambil mengamatinya dan ingin tahu apa yang ingin dilakukannya. Selesai
sholat, orang itu mengangkat tangannya berdoa seperti yang dilakukannya
kala malam itu. Kali ini dengan doa yang berbeda, “Tuhanku, rahasia
antara aku dan Engkau telah Engkau buka di hadapan makhluk-makhluk-Mu.
Engkau telah membeberkan semuanya. Maka bagaimana aku nyaman hidup di
dunia ini sekarang. Karena kini telah ada yang ketiga yang menghalangi
antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah, agar Engkau mencabut nyawaku
sekarang juga.”
Tangan diturunkan, budak itu kemudian sujud. Malik mendekatinya.
Menunggu dia bangun dari sujudnya. Tetapi lama dinanti tak juga bangun.
Malik menggerakkan badan budak itu, dan ternyata budak itu sudah tidak
bernyawa lagi. (ar/oq) www.suaramedia.com

0 komentar:
Post a Comment
Silakan berkomentar di blog ini, berkomentar lah dengan bahasa yang baik dan binjak , dan blog ini dofollow , apa bilang komentar SPAM akan terhapus sendiri secara otomatis. tapi anda tetap bisa berkomentar dengan tool opsi. Nama/URL
Terima kasih atas kunjungannya. semoga bermanfaat informasi yang ada diblog ini.